×

Cerpen Kyai Matdon

Cerpen Kyai Matdon

​Kabayan nampak sedang rebahan di bawah pohon jambu batu, di sisi sawah yang jauh dari rumahnya. Padahal sebelumnya Kabayan diminta Istrinya, Nyi Iteung untuk mencari bubu alias perangkap ikan yang hilang. Dasar Kabayan malah asyik mencari Tutut (keong sawah) lalu setelah capek, ia tidur memakai celana pendek.
​ Sedang asyik-asyiknya ngabaheuhay, ia melihat seekor kelinci melompat-lompat di antara semak. Jiwa Kabayan tegerak untuk mengikuti kelinci itu. Kucing itu melessat menembus kegelapan, padahal hari masih sore.
menembus kabut tebal seperti menembus waktu dan ruang meliuk.
Tiba tiba kabut hilang, dan Kabayan merasa aneh karena kini ia berdiri di tepi telaga yang jernih, disampingnya hutan, di depannya hutan pula, aroma aneh semerbak memenuhi udara, aroma yang sangat harum
​ Tepat di seberang telaga, berdiri seorang wanita yang kecantikannya membuat Kabayan lupa caranya bernapas. Rambutnya pekat hitam seperti malam tanpa bintang, kulitnya seputih bunga tanjung, dan auranya begitu agung namun sendu.
​ “Ini pasti bukan bidadari, masa bidadari mah suka main di sungai yang sepi begini,” gumam Kabayan.
​Wanita itu menoleh, matanya seperti memancarkan cahaya kebijaksanaan seabad lalu.
​”Siapakah engkau, ? Mengana bisa sampai ke lembah yang ini?” tanya wanita itu, suaranya lembut seperti alunan suling bambu.
​ “Sa, sa..Saya Kabayan, Neng, eh Bu,” jawab Kabayan.
“Saya datang mengikuti kelinci, mungkin kelinci milik Neng, ya? Neng ini… siapa atuh?”
​ Wanita itu tersenyum tipis, senyumnya seperti memikul beban duka masa lalu. “Aku adalah… Dayang Sumbi.”
​Kabayan mengernyit, mencoba mengingat-ingat. “Dayang Sumbi? Oh, yang katanya pernah ketemu anjing namanya Si Tumang itu, ya? Wah, legend, atuh!”
​ Dayang Sumbi tertegun. Jarang ada manusia yang mengingat namanya dengan begitu santai. “Kau tahu tentang legenda itu?”
​”Tahu, Neng! Di desa kami, cerita Neng itu buat dongeng sebelum bobo. Katanya Neng enggak pernah tua, makanya saya enggak kaget Neng cakep banget!”
** ​ Dayang Sumbi, penasaran dengan si Kabayan, ia ngajak Kabayaj duduk di atas batu besar. Kabayan, tanpa malu, mengeluarkan bekalnya: nasi timbel dan sambal terasi dari bungkusan daun pisang. ​”Coba, Neng, cicipi. Ini masakan istri saya, Nyi Iteung. Dijamin lidah Neng kaget!” ​Dayang Sumbi menggeleng halus. “Terima kasih, Kabayan. Aku tidak lagi membutuhkan makanan manusia.” ​Kabayan cemberut. “Ah, sayang sekali. Padahal sambal terasi ini adalah filosofi hidup atuh, Neng. Pedas di awal, nikmat di akhir, bikin lupa sama hutang.” ​ Lalu mereka terlibat obrolan panjang. Kabayan bercerita tentang kehidupannya yang malas, akalnya yang licik tapi lucu, dan bagaimana ia selalu berhasil kabur dari omelan Nyi Iteung. ​ Dayang Sumbi, sebaliknya, bercerita tentang kesendiriannya yang abadi, kutukan tak menua, dan penyesalan terbesarnya—Tangkuban Parahu, gunung yang ia ciptakan dalam keputusasaan. ​ “Jadi, Neng Sumbi lari dari masalah, ya? Maksud saya, lari dari takdir. Neng kan mau nikah sama yang namanya Sangkuriang itu, padahal dia anak Neng sendiri, kan?” ​ Dayang Sumbi menghela napas. “Itu takdir yang kejam, Kabayan. Aku ingin mencegah bencana.” ​”Tapi, Neng, kita enggak bisa membongkar takdir dengan cara curang. Neng suruh dia bikin danau sama perahu dalam semalam, itu mah namanya ‘ngeles’ atuh. Harusnya Neng bilang saja, ‘Nak, Ibu ini ibumu. Kita tidak boleh menikah.’ Sudah, beres. Kan lebih sederhana?” ​ Dayang Sumbi menatap Kabayan, terkejut dengan kejujuran yang lugas itu. Ribuan tahun ia memikirkan tentang karma dan takdir, tapi pemalas ini menyederhanakannya menjadi ‘ngeles’. ​”Kau meremehkan masalah para dewa, Kabayan,” kata Dayang Sumbi. ​”Ah, dewa juga suka lapar dan suka tidur siang, Neng. Intinya sama. Hidup ini enggak usah dibikin susah. Kalau cinta, bilang cinta. Kalau enggak, jangan bohong. Kalau mau gunung, ya bangun dari sekarang, jangan pas menjelang subuh baru buru-buru!” ​ Dayang Sumbi tertawa kecil. Tawa yang sudah lama tak ia rasakan. ​*
​ Saat malam tiba, Kabayan tidur pulas di atas rumput. Dayang Sumbi duduk di sampingnya, mengawasi. ​Dalam kesendiriannya, Dayang Sumbi menyadari sesuatu. Dirinya dan Kabayan adalah representasi dari mitos Sunda yang berbeda. Dayang Sumbi mewakili tragedi, takdir abadi, dan kompleksitas spiritual. Kabayan mewakili kesederhanaan, kepolosan yang licik, dan kearifan lokal yang santai.
​”Kabayan,” bisik Dayang Sumbi. “Kau tidak takut mati, tidak takut tua?”
​Kabayan nguliat, “Takut, Neng. Tapi kalau takut melulu, kapan tidurnya? Besok juga lapar lagi, ya sudah, dijalani saja.”
​ Melihat Kabayan, Dayang Sumbi merasa beban di hatinya sedikit terangkat. Legenda tidak harus selalu tentang tragedi dan kutukan. Kadang, legenda juga tentang seorang pemalas yang bisa makan enak dan tidur nyenyak di mana saja.
​ Pagi datang, kelinci itu muncul lagi.
​”Saya harus pulang, Neng,” kata Kabayan sambil memasukkan sisa nasi timbel ke karungnya. “Nanti Nyi Iteung marah, bahaya. Omelannya lebih seram dari gunung meletus.”
​”Kau ingin aku berikan sesuatu, Kabayan? Harta, keabadian?” tanya Dayang Sumbi.
​Kabayan menggeleng. “Enggak usah, Neng. Harta mah bikin capek mikir, keabadian mah bikin enggak bisa ketemu istri saya lagi kalau dia sudah meninggal. Cukup ini saja: Saya bisa cerita ke Nyi Iteung kalau saya kenalan sama cewek paling cantik di seluruh Tatar Sunda. Dijamin dia bakal cemburu sampai seminggu!”
​Dayang Sumbi tersenyum tulus. “Hati-hati di jalan, Kabayan.” Kata Sumbi setengah berbisik.
Kabayan pun mengikuti kelinci itu kembali ke kabut waktu. Ketika ia tiba di lembah yang ia kenal, pohon jambu masih tegak. Namun, di tangannya, ada sekuntum bunga abadi yang tak pernah layu.
​”Wah, bunganya cantik. Tapi kalau dikasih ke Nyi Iteung, pasti dia tanya, ‘Beli di mana? Uangnya dari mana? Jangan-jangan duit bubu yang hilang dipakai jajan?'”
​Kabayan menghela napas, tersenyum kecil. Ia tahu, meskipun ia bertemu dengan legenda purba, hidupnya tetaplah komedi sederhana bersama Nyi Iteung. Dan itu, baginya, sudah lebih dari cukup.
​ Kabayan pulang, dari kejauhan suara Nyi Iteung terdengar nyaring.
“Kabayaaaaaan….kenapa baru pulang, sudah dua hari nyari bubu, tidak ketemu jugaa..” teriaknya.
“Kalem Nyi, Akang mawa beja bagus, Akang akan nikah dengan wanita masa lalu, cantik jelita, namanya Dayang Sumbi!” Kawan Kabayan.
Nyi Iteung diam, lalu pingsan

Post Comment