×

Puisi Eross

Puisi Eross

DO’A

hari ini tak meriah
tanpa api yang bernyanyi

kematian datang pelan
serupa debu di sudut meja;
tak disapu
tak dipamerkan

aku menyimpannya
di saku paling dalam
semoga ia mau tinggal
dengan tubuh yang lepuh

tak ada sesiapa
hanya gelap
yang menetap

Eross, 2026

WIFI, TUHAN dan SEBATANG PENSIL

Suatu malam…
wifi mati satu menit.
anak-anak asrama menjerit
seperti kehilangan ibu kandung
dan ayah yang lupa tanggal ulang tahun mereka.

Di pojok kamar:
seseorang membuka Al-Qur’an
dengan mode pesawat.

“Tuhan, koneksinya putus.
Apakah Engkau juga sedang offline?”

Di bawah bantal, sebait puisi menggigil.
sebatang pensil menjerit:

“Dulu aku menulis harapan,
kini cuma mencungkil kerak telinga.”

Wifi menyala kembali.
langit banjir notifikasi.
manusia kembali sujud
pada layar 6 inci yang dianggap surga mini.

Jika sinyal dianggap ilahi,
maka siapa yang kalian sembah
saat baterai habis?

2025

Post Comment