Puisi Eross
HUJAN dan HUTAN
Negaraku retak.
hujan mendorong hutan ke tengah kota.
“Lututku ditebang,
namun diminta menjaga keseimbangan dunia.”
air bertamu ke rumah-rumah,
membawa massa yang gagal menjadi manusia.
jejak negara tiba
ketika arus mulai reda—
memotret puing dan wajah yang tak lagi bernyawa.
kayu-kayu hanyut
gentayangan, mencari siapa penebangnya:
manusia,
atau luka.
2025
TAK BERUJUNG
kulihat kau mendayung perahu kecilmu
di tengah arus menggigit angin.
air memantulkan wajahmu —
teduh, retak,
cermin yang enggan menutup mata.
daun-daun gugur dari ranting waktu.
menyapa permukaan.
hanyut.
arah — tak seorang pun mengerti.
setiap dayungmu: kalimat belum selesai dibaca,
mengantar ke mana-mana,
tak pernah tiba.
jeram berbisik. gigi tajam.
menguji tanganmu — gemetar oleh sabar.
kau menatap tepi samar:
rumah bayangan,
tempat harap belajar berdiri,
tanah — tak ada.
impianmu tumbuh di pinggir arus.
nyala menunggu reda.
akar mencengkeram batu,
tahu —
tak semua yang keras mampu menolak runtuh.
hujan turun,
membawa suara asal.
badai datang,
alasan tak pernah tiba.
sungai tetap mengalir,
membawa serpih — dari yang pernah hilang.
jauh,
laut membuka dada,
memanggil riak pulang.
kau terus mendayung:
menuju hening
yang mendengarkan
gemericik waktu.
2025



Post Comment