SUIT SEPENTIN MAJELIS SASTRA BANDUNG
Memenuhi undangan Majelis Sastra Bandung yang dimotori Kyai Matdon, karena dua puisi saya, lolos kurasi menjadi pengisi buku “NEGERI OMON-OMON” ikut berjejer dengan karya para penyair kahot, seperti Aa Bode Riswandi, Mas Gusjur Mahesa , Kang Haji Yusran Nurlan, Ang Arom Hidayat dan para penyair hebat lainnya.
Selain ketemu melepas kangen dengan kawan-kawan lama, juga ikut menimba ilmu, karena ada acara diskusi bersama Doktor Hawe Setiawan, dengan tema : “Kondisi (Ke)Penyair(an) di Jawa Barat Hari Ini”
Kalau judul tema-nya memakai kurung-kurung segala, biasa lah, namanya juga penyair, biar sedikit ambigu, begitu. Jadinya ada dua sisi yang bisa dibaca. Kondisi penyair dan kondisi kepenyairan.
Penyair tentu lekat dengan puisi, dan puisi sejak dulu tidak pernah sekadar rangkaian kata indah, namun hasil kerja batin yang serius. Upaya mengendapkan pengalaman, mengolah luka dan bahagia, lalu memadatkannya dalam diksi apik dan metafor bernalar. Dalam puisi, kejujuran bukan pilihan etis semata, melainkan syarat estetik. Tanpa kejujuran, puisi tampil hanya sebagai hiasan belaka.
Dengan hadirnya media sosial, kondisi kepenyairan mengalami perubahan drastis. Ruang-ruang yang dahulu terbatas pada majalah sastra, komunitas kecil, atau mimbar-mimbar diskusi, sekarang terbuka lebar. Setiap orang bisa jadi penyair, setiap perasaan dapat segera ditulis dan dipublikasikan.
Keterbukaan ini patut disyukuri. Sastra tidak lagi tersimpan di ruang menjulang, tapi turun ke jalan-jalan digital, berbaur dengan kehidupan sehari-hari.
Sayangnya di balik kemudahan itu, tumbuh problem yang jarang dibicarakan secara serius. Ini yang disorot oleh Uda Ahda Imran. Kita kehilangan kritik sastra yang jujur dan bermutu. Media sosial telah memproduksi iklim apresiasi, menjadi instan. Setiap puisi disambut jempol, emoticon lope, dan pujian seragam. “Widiih indah”, “Ehmm dalem”, “Keren” atau stiker jempol segede gaban.
Bahasa kritik disederhanakan menjadi afirmasi. Apresiasi kehilangan fungsinya sebagai nalar evaluasi. Akibatnya penyair dan calon penyair, kehilangan cermin untuk berkaca secara jernih. (anjiir… éta bahasa aing, jiga nu betul)
Kritik sastra, yang sejarahnya kadang hadir dengan nada keras memicu perdebatan sengit, sekarang dianggap sebagai tindakan kurang santun. Menurut Kang Haji M Malik, sekarang kritik disalahpahami sebagai serangan personal, bukan sebagai dialog intelektual. Padahal, sastra Indonesia bertumbuh justru melalui polemik, perdebatan tentang bentuk, tema, ideologi, dan posisi estetik. Dari sanalah kesadaran kepenyairan ditempa, bukan dari pujian massal.
Tanpa kritik yang berbasis keilmuan dan argumen, penyair muda berisiko terjebak pada ilusi kematangan. Ia merasa telah “sampai” dan telah menjadi “penyair sejati” hanya karena puisinya disukai, bukan karena diseleksi dengan kematangan dan ujian.
Padahal, puisi menuntut keberanian untuk gagal, ketegaran menerima koreksi, bahkan rela menghadapi penyangkalan. Kritik yang jujur memang pahit, tetapi justru memberi nutrisi bagi pertumbuhan.
Meredupnya polemik sastra menyebabkan wacana jadi madeg. Sastra berhenti dari medan pemikiran. Hadir hanya sekadar etalase perasaan. Padahal, puisi tidak berbicara tentang “aku”, melainkan juga tentang dunia, zaman, dan kegelisahan kolektif. Tanpa perdebatan estetik, sastra kehilangan daya gugahnya. Juga kehilangan fungsinya sebagai pengetahuan dan kepedulian.
Sudah waktunya kita kembali ke tradisi lama. Bukan sekadar keberanian mengkritik, tetapi juga kedewasaan menerima kritik. Media sosial tetap menjadi ruang publikasi, tetapi semestinya juga menjadi wadah dialektika. Di sanalah puisi diuji, bukan hanya disanjung berlebihan. Dari tradisi kita belajar, bahwa sastra yang hidup bukan sastra yang paling banyak disukai, melainkan sastra yang terus dipersoalkan.
Tanpa kritik, puisi hanya akan menjadi gema perasaan yang gaungnya kan menghilang. Dengan kritik, sastra berpeluang menjadi pematik sekaligus endapan kesadaran.
Selamat Ultah MSB
Nuhun ka sadayana..
: Abah Sarjang, penulis, budayawan, tinggal di Karawang Jawa Barat



Post Comment