Puisi Ganjar Kurnia
TIDAK BAIK-BAIK SAJA
Langit melukis wajah Batara Kala yang sedang menahan lapar.
Awan menjadi pusaran amarah para dewa yang lupa mantra.
Gunung tak lagi berdoa,
sungai berbelok arah
Arjuna tidak bisa lagi memanah:
kehilangan konsentarsi
untuk membedakan benar — salah
Di alun-alun kurusetra,
dalang sudah lama diam.
Wayang-wayang menggigil di dalam kotak
Semar kehilangan tawa,
Dawala hanya menguap
Gareng menatap langit,
menunggu janji politisi yang tak pernah turun,
Cepot, bicara paling jujur.
Suaranya dibawa ke pinggir pasar,
beradu nyaring dengan bising tukang obat,
yang sedang mendagangkan moral.
Pandawa dan Kurawa duduk di meja koalisi
Mereka tidak lagi berperang,
tapi juga tidak berdamai.
Semuanya saling menepuk pundak
sambil menanam racun di bawah meja.
Kata pengamat,
Negeri ini, sudah masuk babak baru
Babak dimana dharma dan adharma
kadang bertukar pakaian,
Para dalang hanya menggerakkan tangan tanpa hati.
Kresna tak lagi memberi petuah
Ia berubah menjadi konsultan politik,
menulis strategi dalam bentuk survei dan statistik
Sementara Gatotkaca tak bisa terbang tinggi,
sayapnya dipatahkan birokrasi.
Di antara bayang-bayang panggung
aku mendengar gamelan sumbang.
Nada salendro berubah jadi suara sirene
Para pesinden yang duduk berjajar,
seperti barisan Paskibra,
menyanyikan lagu-lagu perjuangan —
dengan suara sumbang.
Semar menatap dengan mata air yang nyaris kering,
lalu berkata pelan:
“Negeri ini, sudah menjadi panggung wayang,
dan pasar malam yang lupa fajar.
Dalang sudah bosan bertuhan,
dan para penonton hanya bisa menangis
sambil menerka-nerka,
siapa dalang di balik dalang”
Dari tubuh wayang yang patah.
orang-orang saling berebut serpihan kayu
Mereka berteriak lantang:
“ negeri ini memang sedang tidak baik-baik saja”
111025



Post Comment