Puisi Yustia Kusmarlina
DALAM RUANG SUNYI
aku berjalan dalam malam yang pekat dan dingin membisik Menyembunyikan nadi yang gemetar setiap kali bayangmu mendelik Kau menatap seperti memangsa, seperti sesuatu yang harus kau miliki utuh dan tak boleh retak sedikit Seolah jiwaku milikmu, dan nafasku hak yang boleh kau cekik. Lelah menahan detak yang kau buat panik Lelah berpura-pura kuat saat jiwaku mulai retak dalam sunyi yang menikam tragis. Kau sebut itu “cinta yang sangat manis”, padahal yang terasa hanya jerat yang melilit rapih dan ganas. Seperti tali yang tak terlihat, yang perlahan membunuh ruang dalam dada yang makin menyempit dan pedih Kucoba berlari Namun malam di belakang punggungku menutup seperti rahang raksasa yang sinis Kau sebut dirimu PENYELAMAT, tapi aku melihat wajahmu berubah bentuk Bias cahaya menyalin tubuhmu menjadi mahluk dengan mata cekung dan nafas yang berdesis manis. Memaksaku tinggal dalam pelukan yang terasa seperti pusara yang menunggu penghuni berikutnya. Maka kuhadirkan sesosok…. Siluet yang kubentuk dari debu dan desir angin paling tipis Kuletakkan di sisiku seperti boneka kayu yang kupahat terburu-buru Meski kosong, ia cukup membuatmu beriman bahwa nadiku bukan lagi milikmu yang obsesif dan bengis. Kulukis kisah siluet dengan tinta kegelapan yang menetes perlahan dari jemariku. Seolah kami menari di bawah bulan yang patah Seolah ada jemari lain menggenggamku rapih Padahal itu hanya bayanganku sendiri yang kupaksa hidup. Tawa palsu yang retaknya lebih tajam dari fragmentasi kaca burung besiku Aku tahu kau membenci kehilangan, justru di situlah jalan setapak pelarianku kupahat paling rapih Kupapas ruang gerakmu dengan ilusi, kupenuhi gelapmu dengan khayal bahwa aku telah pergi Kubiarkan kau menelan cemburu yang pahit dan bengis, sebab hanya itu cara agar kau tak lagi melekat pada hidupku seperti bayang maut yang tak pernah selesai berdiri Maaf? Tidak! Untukmu, aku tak menyisakan manis Semua kecemasan yang kau tanam, kupetik kembali dalam bentuk lukisan cerita yang sengaja kubuat tragis Agar kau hancur sedikit, cukup untuk berhenti mencariku Cukup untuk melepaskan cengkeram yang menjeratku erat Dan ketika akhirnya kau menghilang, menelan gelapmu sendiri yang rakus dan sinis Di situlah aku berdiri, masih gemetar, namun bebas meski penuh retakan batin yang tak lagi bisa direkat tipis Tidak apa! Lebih baik hancur dalam sunyi yang jujur, daripada hidup dalam cinta yang hitam, yang selalu siap membunuh dari balik bisik
Batam, 1 Desember 2025



Post Comment