×

Rumahku Majelis Sastra Bandung

Rumahku Majelis Sastra Bandung

Oleh : Episs Gee

Lama sekali saya tidak berkunjung pada rumah yang kali pertama saya datangi di sore hari pada tahun 2009. Ditemani si sulung yang saat itu masih berusia 2 tahun. Sebagai pendatang dengan sukacita bahwa kegemaran saya menulis kini punya wadah. Punya tempat. Punya rumah yang menjalinkan pada beberapa rumah lainnya sampai akhirnya anak-anak karya berlayar. Saya belajar.

Di rumah itu saya mengenal Tadarus Puisi dan Pengajian Sastra. Puisi siapapun dikupas. Dipelajari. Dibentuk. Dan yang tertinggi barangkali puisi peserta bisa dimuat di media cetak spesialnya semakin dikenal dan akhirnya punya buku sendiri. Hingga penghargaan. Menulis bukan sekadar euforia pemuatannya. Tapi bagaimana karya dibincangkan, dikritik dan diberi masukan. Tolong jangan sakit hati. Saya ingat apa yang disampaikan oleh Kang Acep di salah satu pengajian sastra, “menulis itu harus berdarah-darah”. Lalu Mang Matdon berkelakar, “haram hukumnya kalau menulis hanya untuk terkenal.” Begitulah.

Saya mengkhidmati perjalanannya. 17 tahun rumah tempat saya belajar, dimulai dari anak bawang yang malu-malu membawa karya bahkan akhirnya ngakak sendiri saat saya membaca ulang karya pertama. Hah! bisa-bisanya saya menulis macam itu. Sutardji bukan, apalagi Remy! Tapi begitulah belajar memang dari ketidaktahuan akan sesuatu yang kita suka dan cintai. Namun belajar adalah hal yang paling wajib dalam menulis. Wajib! Jangan berhenti meski perjalanan banyak jedanya (inisih saya) yang lain tidak.

Di rumah ini saya bertumbuh. Mengirim tulisan. Belajar di tempat-tempat lainnya. Dan yang paling membekas adalah berteman dengan kawan-kawan yg akhirnya seperti keluarga. Sampai akhirnya perjalanan membawa kami pada hidup masing-masing.

Puncak keterlibatan saya adalah ikut mengurusi pertemuan Lima Rukun dan Workshop bersama Kompas. Pengalaman yang luar biasa. Semua kegiatannya membekas jadi bekal cerita.

File foto kegiatan MSB nyaris sampai 1/2 Tera. Perjalanannya saya rekam lewat gawai yang dulu setia saya jinjing di tiap acara. 2009-2017

Selamat hari jadi Majelis Sastra Bandung. Terima kasih banyak Mang Kyai Matdon dan kawan-kawan pendiri. Terima kasih sudah menjadi keluarga. Rindu.

Post Comment