×

Kabayan Ngalalana: Denyut Longser Kembali

Kabayan Ngalalana: Denyut Longser Kembali

Berrtempat di GK. Rumentang siang, 16 September 2025, setiap hari Selasa di bulan September hingga Desember
2025, seni nuhun Longser kembali hidup, Rumentang Siang menjadi saksi bisu dari sebuah peristiwa budaya. Dengan judul “Kabayan Ngalalana”, produksi Longser Bandung (LOBA) karya sutradara Rosyid E. Abby, asisten sutradara Agus Injuk, menjadi rutin hingga Selasa (3 Januari 2026).

Inilah karya yang tidak sekadar
mementaskan Longser atau Sandiwara Sunda, tetapi menafsir ulang, menumbuhkan, dan menyalakan kembali energi tradisi di tengah Bandung hari ini.

Kabayan dan Mesin Waktu
Tokoh Kabayan sudah lama menjadi figur kolektif masyarakat Sunda. Ia cerdik sekaligus lugu, jenaka namun bijak. Dalam “Kabayan Ngalalana”, ia tampil berbeda: Profesor Kabayan, penemu mesin waktu. Dengan mesin ciptaannya, Kabayan terseret ke berbagai masa: dari zaman Sangkuriang dan Dayang Sumbi di Bandung Purba, ke Batavia era
Kompeni, hingga melesat jauh ke Tatar Sunda tahun 2750 Masehi

Ketika Bandung kembali
menjadi danau akibat bencana.
Narasi ini bukan sekadar petualangan fantasi. Ia menyuguhkan refleksi tentang ingatan kolektif, tentang bagaimana orang Sunda melihat masa lalu, kini, dan masa depan.

Ada kritik sosial, ada satire, ada humor, tapi juga ada nostalgia dan harapan.
Longser dan Sandiwara Sunda: Dua Warisan, Satu Panggung
Longser tumbuh dari rakyat, cair, improvisatif, egaliter. Ia selalu memberi ruang partisipasi,
sekaligus menjadi wadah kritik sosial yang dikemas dengan tawa. Sandiwara Sunda, di sisi lain, lahir dengan struktur dramatik yang lebih tertata, menghadirkan narasi moral, romantika,
dan konflik sosial dalam bingkai estetika Sunda.

Dalam “Kabayan Ngalalana”, keduanya tidak dihadirkan sebagai rekonstruksi. Ia lebih mirip
teks hidup yang terbuka pada tafsir baru. Improvisasi Longser dipadukan dengan disiplin
dramatik Sandiwara Sunda. Lalu ditambah musik karawitan yang bertemu bunyi
kontemporer, tari tradisi yang berbaur dengan gerak teatrikal, dan silat yang berjumpa
koreografi modern.

Salah satu daya tarik “Kabayan Ngalalana” adalah keterlibatan lintas komunitas seni:
sanggar tari, kelompok musik, komunitas teater, hingga pesilat muda, mereka hadir bersama
di atas panggung. Ada energi regenerasi yang mengalir.

Semoga seni Longser terus abadi

Post Comment