Puisi Intan Nurani
RAMADHAN PERTAMA TANPA AYAH
Waktu berlari bagai angin yang tak menoleh
Meninggalkan luka, tergores kilat di relung hati
Ramadhan kembali mengetuk pintu jiwa
Namun sunyi menyambut, hampa menyapa tanpa suara
Seseorang yang berpamitan untuk selamanya
Membuat rumah kehilangan cahayanya
Tawa kini hanya gema masa lalu
Rindu menumpuk, sepi datang bertalu – talu
Ayah…
Tak pernah terlintas kehilangan secepat ini
Namun takdir menuliskannya di garis hidupku
Aku harus melangkah di jalan panjang ini
Tanpa bayang hadirmu di sampingku
Saat sahur terbangun dan malam memeluk sunyi
Air mata jatuh bagai hujan tak tertahan lagi
Kini doaku menjadi jembatan untukmu, Ayah
Belajar mengikhlaskan, meski perih merantai hati dengan pasrah
intan nurani siswa SMKN 1 RANCABALI adalah pemenang kedua pada lomba menulis puisi yang digelar Majelis Sastra Bandung



Post Comment